Catatan Perjalanan Ke Argentina (Bagian 2)

 

Oleh Bupati Banggai, Ir. H. Herwin Yatim, MM

 

PESAWAT kami mendarat di bandara Ministro Pistarini sekira pukul 20.30 malam. Ini adalah bandara terbesar di Argentina dan menjadi penghubung penerbangan untuk rute internasional. Suasana bandara sangat ramai, karena waktu kami mendarat hampir bersamaan dengan pesawat lain dari beberapa negara. Yang menarik, sebagian besar penumpang ternyata peserta kongres gizi seperti kami. Tak heran kami membutuhkan waktu sekitar dua jam utnuk urusan bagi dan imigrasi.

Jumlah peserta dan jumlah negara memang selalu menjadi perhatian pada kongres akbar ini. Tahun ini, menurut laporan panitia ada tiga ribuan lebih peserta yang mendaftar. Jumlah negara juga mencapai ratusan. Dari Indonesia sendiri menurut bincang-bincang kami saat ketemu di kedubes Argentina kurang lebih dua puluh. Indonesia yang begitu jauh saja bisa mengirimkan sampai dua puluh peserta, apalagi negara besar seperti Amerika yang terkenal sangat maju ilmu gizinya. Tak heran jika kongres ini dijuluki pula sebagai olimpiade gizi.

Ramainya peserta semakin terasa ketika kami melakukan registrasi. Para peserta dari berbagai negara bertukar antrian dengan kami. Di sini segala macam model manusia ketemu. Ada yang berbahasa Inggris, Spanyol dan beberapa percakapan yang kami tidak kenali bahasa mereka. Kami pun mencoba membuka percakapan dengan satu dua peserta.

Ketika menyebut Indonesia, beberapa peserta dari Afrika merasa tertarik dan cepat menjadi akrab. Mungkin karena merasa sama-sama dari negara berkembang. Mereka rata-rata masih muda, tapi sebagian besar sudah bergelar doktor. Mereka ramah dan hangat. Dengan pakaian khas negaranya, maka keberadaan mereka menjadikan kongres ini penuh warna-warni.

Kongres gizi terbesar ini memang selalu menarik minat peserta. Maklum diajang inilah perkembangan ilmu gizi mutakhir diperbincangkan. Bukan semata-mata menyangkut gizi klinis, tetapi topiknya luas sampai menyentuh kebijakan dan perhatian pemerintah terhadap gizi. Di sini pula terjadi parade ahli-ahli gizi dari seluruh dunia. Karenanya, dimanapun kongres ini dilaksanakan peserta selalu berlimpah.

Ketika acara pembukaan dimulai, saya hampir tidak mendapat jatah kursi. Peserta betul-betul penuh memenuhi kursi yang disiapkan panitia. Ruang pleno yang disiapkan Hotel Sheraton itu tak mampu semua peserta.

Akibatnya, banyak yang tidak bisa masuk. Namun, mereka tetap tenang bahkan ketika benar-benar tidak bisa mengikuti pembukaan di dalam ruangan. Mereka tetap asyik berdiri mendengarkan jalannya acara dari luar ruangan.

Berada di tengah-tengah para ilmuwan tak emmbuat saya rendah diri. Demikian pula disaat presentasi. Pada saat memperkenalkan diri saya emnyebut diri saya bupati. Tak saya duga, pengakuan saya ini justru membuat mereka tambah serius mendengarkan cerita saya. Mereka betul-betul sangat antusias. Peserta dari Peru, Argentina, Malaysia, Honduras dan Paraguay sempat bertanya tentang apa yang dilakukan di Banggai. Apalagi saat mengetahui bahwa saya seorang bupati. Dalam pikiran mereka, jarang ada pemimpin daerah yang mau terlibat langsung dalam urusan pembangunan gizi. Mereka pun menyadari bahwa kolaborasi antar ilmuwan, praktisi dan pemerintah memegang peran penting dalam mengatasi masalah gizi.

Kesempatan inipuntak saya sia-siakan. Dengan percaya diri, saya mengundang mereka utnuk berkunjung ke kabupaten Banggai. Memang ada kesulitan pada saya untuk meyakinkan mereka karena saya tidak memegang peta untuk menunjukkan lokasi Banggai.

Namun demikian, itu tak menyurutkan rasa ingin tahu mereka. Dari wajah mereka yang bersungguh-sungguh, saya menangkap keinginan mereka untuk suatu saat bisa ke Banggai. Dan saya sendiri pun pasti menjadi orang sangat berbahagia bila mereka betul-betul mengunjungi Banggai yang kita cintai. ***