Catatan Perjalanan Ke Argentina (Bagian 3)

 

Oleh: Bupati Banggai, Ir. H. Herwin Yatim, MM

 

DALAM sebulan ini, sudah dua kali saya mengikuti kongres internasional. Pertama, September lalu  di University of California Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat. Kedua, sekarang ini, kongres gizi internasional di Buenos Aires Argentina. Kehadiran saya, yang tidak berlatar belakang pendidikan kedokteran atau kesehatan tentu menjadi perhatian peserta lain. Dari Indonesia rata-rata yang berangkat adalah profesor, dosen, dan peneliti, baik yang berasal dari lembaga penelitian atau institusi pendidikan. Jadi, saya satu-satunya peserta yang juga adalah Bupati.

Meskipun demikian, bergaul dengan kalangan akademisi bukanlah hal yang terlalu asing bagi saya. Meski dalam 20 tahun terakhir ini saya lebih banyak bergelut di dunia politik, saya tak merasa terputus dengan dunia pendidikan. Ketika berkarir menjadi anggota DPRD, saya bisa menyelesaikan pendidikan S2. Sekarang pun, di sela-sela kesibukan sebagai Bupati,  saya masih berjuang menyelesaikan pendidikan doktoral di Universitas Brawijaya Malang.

Mungkin karena itu pula , dunia kampus merasa dekat dengan saya. Saya sering diundang untuk memberikan kuliah tamu atau berceramah di kampus-kampus. Di fakultas pertanian Unhas yang juga adalah almamater saya, saya didapuk untuk memberikan kuliah perdana beberapa waktu lalu. Demikian juga di Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, Juni lalu saya diminta berceramah dihadapan Menteri Kesehatan. Dan yang lebih spektakuler adalah apa yang terjadi bulan lalu. Pihak kampus University of California (USC), khususnya Sol Price School of Public Policy memberi kesempatan kepada saya untuk  presentasi dihadapan  profesor dan para mahasiswanya. Materi saya waktu itu berjudul: Banggai Regency in Brief, an Introduction to Find Potential Collaboration.

Oleh karena itu, ketika ada pertanyaan tentang kesan saya berada ditengah-tengah ilmuwan seperti ini maka saya  jawab;  sangat menyenangkan. Forum ini seperti menyulut semangat baru saya. Saya merasa semakin perlu belajar dan sharing  pengetahuan dengan mereka. Saya juga merasa perlu mendalami teori-teori yang berkaitan dengan ilmu kesehatan dan gizi sehingga apa yang saya lakukan sebagai Bupati dalam mengambil kebijakan akan didukung oleh bukti ilmiah.

Teori-teori tentang gizi ini menjadi penting bagi saya karena selama 5 tahun ke depan, pemerintahan saya akan memperkuat pembangunan kesehatan yang sifatnya mendasar seperti yang sudah dilaksanakan yaitu gizi masa prakonsepsi dan 1000 hari pertama kehidupan.  Jika kedua hal ini terimplementasikan dengan baik maka ke depan saya yakin Kabupaten Banggai akan melahirkan generasi yang cemerlang dan unggul dalam pergaulan dunia.

Satu hal yang saya catat, selama kongres ini berlangsung saya menangkap semangat yang sama pada para peserta. Para ilmuwan dan peneliti gizi yakin bahwa penanganan masalah gizi akan  semakin sempurna bila ditujukan spesifik pada setiap tingkatan usia manusia. Dan yang membuat saya bahagia, apa yang kita lakukan di Banggai sudah sesuai dengan pemikiran mereka. Disaat orang berbicara pentingnya intervensi gizi pada siklus hidup manusia, kita telah memulai sejak awal kehidupan, disaat pasangan baru akan melaksanakan pernikahan. Inilah yang kita andalkan sebagai inovasi; perbaikan gizi pada masa prakonsepsi.

Itulah yang membuat saya semakin percaya diri berada ditengah-tengah para ilmuwan ini. Meskipun kita berada di level kabupaten, tapi cara berpikir kita dalam memecahkan masalah kesehatan dan gizi sudah setara dengan ilmuwan mancanegara. Pergaulan dengan akademisi, ilmuwan, dan peneliti sangat penting bagi kita yang ada di pemerintahan ini. Ke depan,  pergaulan ini harus terus kita pelihara agar kita semakin tepat merumuskan kebijakan dan program. Sampai berjumpa di kongres mendatang. ***