Catatan Perjalanan ke Argentina (Bagian 4)

 

Oleh: Bupati Banggai, Ir. H. Herwin Yati, MM

 

SETIAP bepergian ke suatu negara, saya selalu menyempatkan melihat suasana kotanya. Demikian pula ketika di Argentina. Sangat disayangkan kalau sudah jauh-jauh datang, lantas tidak sempat menikmati keindahan kotanya. Karena itu, disela-sela padatnya acara kongres, kami menyempatkan diri untuk berkeling kota (city tour). Melihat-lihat pemandangan Buenos Aires kami lakukan dengan naik bus terbuka bersama wisatawan dari negara lain. Meskipun hanya berlangsung sekitar 3 jam, tapi banyak hal yang saya bisa dilihat.

Dari sekian banyak hal yang menarik, ada 3 yang sangat menginspirasi saya. Pertama adalah taman kota yang sangat luas. Sebut saja salah satunya, Jadine Bootanical Garden yang terletak di tengah-tengah kota Buenos Aires. Ini adalah taman yang luasnya lebih dari 50 hektare. Selain luas, taman ini dihuni oleh flora dan fauna aslinya. Flora dan fauna asli ini masih dipertahankan serta dijaga oleh pemerintah setempat. Di taman ini anda bisa menjumpai tupai yang dengan bebasnya melompat, atau berpindah dari satu dahan kedahan lain tanpa merasa terusik dengan kehadiran manusia. Tak heran bila taman ini menjadi tempat rekreasi warga  kota. Disaat kami singgah, kami menjumpai banyak warga yang menghabiskan waktu santainya di  sini.

Selain  luas, taman-taman disini dihiasi ornamen berupa patung-patung yang didesain dengan arsitektur bercita rasa tinggi. Di wilayah Argentina memang banyak ditemukan batu-batu cadas sehingga lahirlah pematung-pematung ulung. Bila di Indonesia batu-batu ini kebanyakan dijadikan cincin, maka di Argentina batu-batu itu berubah wujud menjadi patung cantik dengan bentuk yang sangat rumit. Contohnya patung Galileo Galilei, seorang ilmuwan sekaligus penemu teori bahwa bumi itu bulat. Meskipun dibuat disaat Argentina mash dijajah Spanyol, tetapi patung itu tetap terpelihara dengan baik.

Kedua, lorong-lorong di dalam kota tertata sangat rapi dan artistik. Meski keberadaannya seperti dijepit gedung-gedung tinggi, lorong-lorong itu tetap cantik, karena pinggiran ditata rapih dan bersih dan suatu hal yang membuat kota ini tambah istimewa adalah tidak adanya pengemis atau peminta-minta. Demikian juga orang terlantar.  Berbeda dengan kota lain seperti New York atau Los Angeles. Meskipun keduanya berada di negara maju, tapi penyakit masyarakat perkotaan ini masih sering dijumpai.

Ketiga, ornamen taman yang berbentuk telur. Telur berukuran raksasa ini terbuat dari batu marmer. Kedudukannya seperti teronggok begitu saja  di sebuah taman depan sebuah stasiun bus. Bentuknya persis seperti burung Maleo tapi dalam ukuran sangat besar.  Bila ada sepuluh orang berjejer untuk foto bersama di depannya, lonjong telur bagian itu masih tetap kelihatan. Ini karena saking besarnya. Saya yakin di Argentina tidak ada burung Maleo. Karenanya saya masih penasaran memikirkan apa yang mengilhami  dibangunnya tugu telur itu.

Pemandangan ibu kota Argentina ini sangat menggoda saya. Terbersit angan-angan untuk suatu saat membangunnya di Luwuk. Dalam bayangan saya, kondisi alam Luwuk yang sudah cantik itu akan semakin cantik bila ada taman kota yang luas. Taman yang luas dan tertata rapi akan sangat serasi dengan kondisi Luwuk yang masih alami. Dan itu akan lebih cantik dibandingkan dengan kota yang dihuni gedung-gedung tinggi. Apalagi kalau kita berhasil mencegah jangan sampai ada pengemis. ***