Catatan Perjalanan ke Argentina (Bagian 1)

 

Oleh : Bupati Banggai, Ir. H. Herwin Yatim, MM

 

SEMUA orang bisa saja ke Argentina. Cukup siapkan uang, lalu menghubungi agen travel dan ikut tour yang ditawarkan. Namun, wisata ke Argentina memang tidak seramai ke Amerika atau Eropa. Sehingganya, kemauan untuk mengunjungi Argentina mungkin tidak menjadi prioritas bagi yang ingin berwisata. Belum lagi jaraknya sangat jauh dari Indonesia, membuat orang berpikir berulang kali untuk ke sana.

Beruntung, saya mendapat undangan untuk berkunjung ke Argentina. Undangan itu berasal dari panitia kongres gizi internasional yang dihelat setiap empat tahun sekali. Untuk mendapatkan undangan ini juga tidak mudah. Kami harusĀ  memasukkan abstrak atau ringkasan hasil penelitian atau program yang lalu diseleksi oleh para ahli. Alhamdulillah, abstrak penelitian yang dilakukan di Kabupaten Banggai itu diterima untuk dipresentasikan di sana.

Lalu apa urgensinya seorang bupati hadir disebuah kongres gizi? Ini memang yang belum banyak diketahui orang. Bicara gizi asumsi orang langsung ke masalah kesehatan. Hal ini memang tidak salah. Namun demikian, dari hasil-hasil penelitian mutakhir terungkap bahwa masalah gizi tidak berdiri sendiri. Orang yang kekurangan gizi, bukan semata-mata karena kekurangan makan.

Ini terkait erat dengan kemiskinan, pendidikan, daya beli, tersedianya bahan pangan, air bersih bahkan juga sanitasi. Oleh karena itu, penyelesaian masalah gizi tak bisa semata-mata menjadi tangung jawab bidang kesehatan, tetapi harus melibatkan lintas sektor. Kata para ahli, meskipun orang kesehatan telah bekerja dengan benar dan maksimal, mereka hanya bisa menyelesaikan masalah gizi sebesar tiga puluh persen. Tujuh puluh persen lainnya itu berada di luar bidang kesehatan.

Oleh karena itu, untuk menyelesaikan masalah gizi, kami di kabupaten Banggai membentuk gugus tugas yang diketuai kepala Bappeda. Gugus ini menghimpun organisasi perangkat daerah yang berkaitan dengan masalah gizi serta lembaga kemasyarakatan. Sebut saja, dinas pendidikan, perkebunan, PUPR, pemberdayaan wanita, ketahanan pangan, dll. Gugus ini lalu secara periodic bertemi untuk menynkronkan kegiatan agar memberi dampak pada perbaikan gizi. Alhamdulillah, hasilnya menunjukkan perbaikan.

Misalnya, akses terhadap air bersih yang meningkat, jumlah keluarga pemakai jamban yang bertambah, usia pernikahan perempuan yang meningkat, serta menurunnya angka kemiskinan. Inilah yang terjadi berkat kerja lintas sektor. Hal ini diharapkan secara tidak langsung dapat mempengaruhi status gizi masyarakat.

Inilah yang kemudian mendapat perhatian publik, baik tingkat nasional maupun internasional. Apa yang kita lakukan ini mendapat apresiasi banyak pihak. Beberapa kali saya diundang menjadi pemateri pada pertemuan ilmiah baik di kampus ternama maupun organisasi berskala nasional. Hasil ini telah mendapat perhatian juga dari kantor staf presiden sehingga kami diundang rapat khusus di sana.

Apa yang kita lakukan ini pula yang menyebabkan kabupaten Banggai termasuk dalam 4 kabupaten percontohan penanggulangan masalah stunting (balita pendek) di Indonesia. Hasil ini pula yang membuat Banggai menerima beberapa penghargaan nasional.

Dari yang paling membanggakan, laporan pelaksanan kegiatan di Banggai ini telah dimuat di bulletin organisasi kesehatan sedunia atau WHO.

Di Argentina, pada hari kedua kongres, laporan ini akan saya presentasikan. Judul makalah saya, Multisectoral Action to Improve Nutirition in Banggai District.

Selain untuk memperkenalkan hasil karya ilmiah di forum internasional, tentu saya ingin memperkenalkan kabupaten Banggai kepada para peserta yang berasal dari hampir seluruh negara di dunia. Momen ini tentu sangat berharga untuk dimanfaatkan mempromosikan daerah kita.

Inilah yang membuat saya bersemangat ke Argentina. Capek akibat perjalanan udara yang membutuhkan lebih dari 30 jam itu seolah terlupakan. Saya datang ke Argentina bukan sebagai wisatawan. Saya datang ke sini bersama segelintir orang yang tergolong ilmuwan. Mereka kebanyakan peneliti, professor, dan dosen dari perguruan tinggi atau lembaga ternama di Indonesia. Kami bergabung dengan ribuan peserta kongres dari penjuru dunia.

Tadi malam, sekira jam 10 waktu Argentina kami tiba. Cuaca di Argentna masih tergolong hangat untuk orang Indonesia. Di bandara, kami seperti disambutĀ  oleh petugas dengan wajah cerah. Warga Argentina memang belum lepas dari sukacita. Beberapa hari lalu, Messi dkk membuat warga Argentina berpesta. Mereka memastikan diri lolos ke piala dunia 2018 di Rusia. ***