BanggaiKab.go.id- Pemerintah Kabupaten Banggai mendorong pengembangan pariwisata di Kecamatan Moilong yang diproyeksikan menjadi miniatur Suaka Margasatwa Bakiriang, habitat satwa endemik di Kabupaten Banggai, burung Maleo. Mengingat Kecamatan Moilong adalah pintu masuk menuju kawasan seluas 12.500 ha tersebut.

Hal ini disampaikan Bupati Banggai Ir. H Herwin Yatim MM dalam kegiatan pelepasliaran anakan Maleo hasil konservasi ex situ Maleo oleh PT DSLNG dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah, Minggu (6/8), di Pantai Moilong, Kecamatan Moilong.

“Orang yang ingin melihat Maleo, mesti lewat Moilong. Ingin masuk kawasan Suaka Margasatwa, miniaturnya di sini. Masa depan Moiling ada di kawasan ex situ penangkaran Maleo,” kata Bupati Banggai dalam kegiatan yang juga dihadiri oleh Wakil Bupati Banggai H Mustar Labolo, Ketua DPRD Kabupaten Banggai H Samsul Bahri Mang, jajaran Forkopimda, Ketua Lembaga Adat Batui, serta masyarakat setempat.

Olehnya itu, Bupati mengimbau kepada Pemerintah Desa dan Kecamatan agar mengusahakan pengembangan pariwisata di sekitar Pantai Moilong yang notabene berada di titik terdekat menuju kawasan konservasi ex situ Maleo dan Suaka Margasatwa Bakiriang.

Tujuh belas ekor anakan Maleo yang dilepas pada kegiatan tersebut adalah yang kedua kalinya dilakukan, setelah tahun 2013 PT DSLNG dan BKSD Sulteng berhasil melepas sebanyak 13 ekor anakan ke alam liar. Peningkatan jumlah anakan yang dilepasliarkan diharapkan menjadi pertanda baik bagi keberlangsungan satwa dengan nama ilmiah macrocephalon maleo ini.

Konservasi ex situ Maleo yang berdiri atas kerjasama PT DSLNG, BKSDA Sulteng, Direktorat Jenderal Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan dan Kehutanan, serta peneliti Universitas Tadulako ini memiliki fasilitas inkubator penetasan telur, serta area pemeliharaan sementara, sembari menunggu anakan Maleo siap dilepasliarkan ke habitat aslinya.

Operation Manager PT DSLNG, Helfia Chalis mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Pemerintah Kabupaen Banggai serta pihak terkait atas terselenggaranya program-program konservasi yang sejauh ini telah berjalan baik.

Adapun program yang dimaksud diantaranya adalah pengembangbiakkan  Maleo melalui konservasi ex situ dengan menyediakan lokasi yang layak untuk pelepasliaran hasil pengembangbiakan tersebut. Di samping itu, implementasi program tersebut tampak pada pembangunan sarana dan prasarana yang diperlukan, termasuk prakondisi Maleo ke habitatnya. Selanjutnya adalah melakukan pelatihan, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, serta memberi penyadaran kepada masyarakat sekitar tentang  konservasi.

Nyoman Ardika, dari BKSDA Sulteng, menyampaikan harapannya agar satwa yang dalam konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam (CITES) berstatus apendiks 1 (terancam punah dan tidak bisa diperdagangkan) ini, tetap terjaga kelangsungan hidupnya. “Awalnya kita khawatir terhadap keberadaan Maleo yang akan punah, tapi kami berbangga dan berbesar hati atas apa yang telah dilakukan oleh rekan-rekan sehingga satwa ini, menurut keyakinan saya, tidak akan punah di Kabupaten Banggai,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati Banggai, secara tegas mengingatkan perangkat daerah dalam hal pelaksanaan kegiatan, agar tidak bersifat seremonial belaka. Semua program tidak boleh dikerjakan dengan masa bodoh, melainkan harus memiliki sasaran yang jelas dan terukur.

Setelah penyerahan secara simbolis tujuh belas ekor anakan Maleo, kegiatan ini ditutup dengan penanaman pohon kemiri yang sejak dulu telah menjadi asupan makanan burung Maleo.

  

Liputan: diskominfo