BanggaiKab.go.id, Luwuk – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Kamis (25/7). Dalam kunjungan kerja tersebut, Menteri Susi bersilaturahmi dengan lebih dari 500 nelayan setempat yang memadati aula pertemuan Hotel Estrella.

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir mendampingi Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Zulficar Mochtar, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Brahmantya Satyamurti Poerwadi, Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Rina, dan Plt. Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Agus Suherman.

Kehadiran Menteri Susi dan rombongan disambut hangat oleh Bupati Banggai Herwin Yatim, Wakil Bupati Banggai Mustar Labolo, Palaksa Lanal Palu Letkol Laut (P) Adi Wirasmo, Direktur Polair AKBP Indra Rathana, Dandim 1308/LB Letkol Inf Nurman Syahreda, dan Ketua Pengadilan Negeri (PN) Luwuk Ahmad Shuhel Nadjir.

Mengawali sambutannya, Menteri Susi menyampaikan apresiasi atas perairan Luwuk (kecamatan di Kabupaten Banggai) yang bebas dari sampah.

“Saya senang dengan lautnya Luwuk Banggai ini luar biasa. Mudah-mudahan besok saya turun ke laut, nanti sore juga sama bersihnya. Saya percaya dengan filosofi “Pinasa” (Pia Na Sampah, Ala/Lihat Sampah, Ambil), Luwuk ini pasti akan terjaga. Ini filosofi dan semboyan yang luar biasa. Liat sampah, pungut. Biasakan kita hidup peduli dengan lingkungan kita,” tutur Menteri Susi.

Ia mengatakan, meskipun laut Luwuk Banggai sudah sangat bersih dan indah, namun masih banyak nelayan yang melakukan penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing) dengan menggunakan portas atau bom. Hal ini membuat terumbu karang rusak dan mati. Padahal terumbu karang adalah tempat ikan memijah dan berkembang biak.

Tak hanya menggunakan bom, kebiasaan konsumsi plastik masyarakat yang tinggi juga menjadi sorotan. Pasalnya plastik yang digunakan menjadi pencemar di lautan, merusak ekosistem di dalamnya.

“Kita harus meninggalkan penggunaan botol plastik, sedotan plastik, kemasan-kemasan plastik, kresek. Biasanya Ibu-ibu bersahabat sekali dengan kresek, sekarang coba tinggalkan,” lanjut Menteri Susi.

“Bapak Ibu bisa beralasan, toh plastiknya tidak saya buang ke laut. Tapi dibuang ke hutan. Sama saja. Itu di hutan menumpuk, nanti ketika tanahnya digali isinya plastik semua. Menghambat penyerapan air di tanah. Plastik itu tak akan terurai hingga ratusan tahun,” tuturnya lagi.

Menteri Susi saat memberikan sambutan kepada sejumlah nelayan.

Menteri Susi berpendapat, jika dibiarkan terus terjadi, hal ini akan turut mengganggu pasokan air masyarakat Luwuk Banggai.

“Lama-lama pasokan air Bapak Ibu bisa habis. Luwuk ini bukan daratan luas seperti Kalimantan. Jika tanahnya tidak bisa menyerap air, tidak terjadi kondensasi sumber air akan habis.”

Untuk itu, menurut Menteri Susi, laut Luwuk Banggai yang sudah bersih harus dikelola dengan baik. Dengan demikian, pengelolaan sektor perikanan sekaligus pariwisata dapat dimaksimalkan.

“Saya berharap, Luwuk Banggai yang cantik dan bersih ini, bisa menjadi Monako-nya Indonesia,” imbuhnya lagi.

Ia mengimbau masyarakat untuk dapat memaksimalkan sumber penghasilan tak hanya di sektor perikanan tetapi juga sektor pariwisata.

“Kalau ikannya banyak, pariwisatanya indah, sumber uang Bapak Ibu juga lebih besar.”

Sementara itu, Bupati Banggai Herwin Yatim menyampaikan terima kasih atas kepedulian dan kecintaan Menteri Susi terhadap Banggai. Ia pun mengatakan, masyarakat Banggai akan terus melakukan inovasi demi kemajuan Banggai ke depannya.

Menurut Herwin, dua inovasi pihaknya telah tembus ke 99 inovasi terbaik di Indonesia, yaitu inovasi Pinasa dan inovasi program pencegahan stunting 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPH).

“Kami senang laut Luwuk Banggai selalu dipuji Bu Susi. Ini bahkan sudah kali ketiganya Bu Susi berkunjung ke sini. Suatu kebanggaan bagi kami. Jadi jangan ada lagi yang buang sampah karena pasti ditenggelamkan,” kelakar Herwin.

Herwin menuturkan, Kabupaten Banggai yang terdiri dari 23 kecamatan, 46 kelurahan, dan 291 desa, dan memiliki luas wilayah 9.672 km² dengan lebih dari 5.000 kelompok nelayan, merupakan potensi yang luar biasa.

“Ini potensi besar. Kalau tidak mampu dikelola secara bijaksana, masa depan Banggai tidak punya daya saing ke depan, tidak bisa apa-apa. Untuk itu kami mohon bimbingan Ibu Menteri ke semua lapisan masyarakat,” tandasnya.

Usai memberikan sambutan, Menteri Susi menyerahkan secara simbolis berbagai bantuan untuk menunjang kegiatan perikanan di Kabupaten Banggai. Untuk menunjang produksi bidang perikanan tangkap, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) menyerahkan bantuan berupa Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (Kusuka) bagi 1.200 nelayan dan klaim asuransi nelayan kecelakaan dan meninggal dunia bagi 2 nelayan senilai Rp56 juta.

Sementara itu, di bidang budidaya, diserahkan bantuan 1 ton bibit rumput laut kultur jaringan jenis cottoni senilai Rp36,4 juta. Bibit ini diberikan kepada empat kelompok pembudidaya ikan, yaitu Kelompok Pembudidaya Permai Satu, Kelompok Pembudidaya Permai Dua, Kelompok Pembudidaya Berah, dan Kelompok Pembudidaya Mandiri.

Selain itu, KKP juga menyerahkan bantuan modal usaha senilai Rp722 juta melalui Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP). Bantuan permodalan tersebut diperuntukkan tiga kelompok nelayan, yaitu Kelompok Nelayan Bui-Bui, Kelompok Nelayan Karya Bahari, dan Kelompok Nelayan Nusa Indah.

Bantuan juga datang dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Banggai berupa 3.000 Kartu Nelayan Sejahtera senilai Rp300 juta, 3.000 Kartu Asuransi Nelayan Mandiri senilai Rp525 juta.

Penerima bantuan bibit rumput laut kultur jaringan, Marja, mengungkapkan terima kasih atas kepedulian KKP. Ia berharap, bantuan yang diberikan KKP dapat membuat hidup pembudidaya rumput laut lebih sejahtera.

Ia mengaku, bantuan dari KKP ini menambah permodalan usaha rumput laut yang ditekuninya.

Adapun Maya, ahli waris nelayan yang meninggal dunia karena sakit usai melaut menyatakan, dirinya sangat terbantu dengan adanya bantuan program asuransi nelayan yang diberikan pemerintah. Klaim yang ia dapatkan bisa menjadi modal hidupnya setelah ditinggal tulang punggung keluarganya.

Begitu pula Agus Puasa yang mendapatkan asuransi atas buntungnya jari kelingking kanannya akibat kecelakaan dalam aktivitas penangkapan ikan.

“Saya merasa senang nasib nelayan dan risiko melaut yang kita hadapi jadi perhatian pemerintah,” tukasnya.

 

 

Lilly Aprilya Pregiwati
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri